Tag Archive for Syarat Aqiqah

Syarat Aqiqah

Syarat Aqiqah

by Aqiqah Murah Bandung

Syarat Aqiqah

Syarat Aqiqah Menurut Islam

Syarat Aqiqah menurut Islam akan dijelaskan dan dipaparkan secara lugas dan tegas dalam tulisan Syarat Aqiqah ini. Segala rupa hal ihwal yang berkaitan dengan Syarat Aqiqah akan diperjelas menggunakan dalil dan hadis yang sahih sehingga Anda akan memahami secara paripurna dan benar mengenai Syarat Aqiqah ini.

 

Syarat Aqiqah : Hewan yang akan disembelih

Syarat hewan yang sah sebagai Aqiqah menurut Imam Nawawi ra berkata dalam kitabnya, al-Majmu’, “Hewan yang sah disembelih sebagai hewan Aqiqah adalah domba yang dewasa dan kambing yang dewasa yang sudah memiliki gigi seri (gigi depan).

 

Domba dan kambing itu harus terbebas dari cacat. Karena Aqiqah adalah mengalirkan darah sesuai dengan ketentuan Islam, maka sifat-sifat hewan yang disembelih untuk Aqiqah sama dengan sifat-sifat hewan yang disembelih untuk kurban, sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad sahih sahih bahwa Ibnu Abbas r.a. berkata

“Rasulullah mengaqiqahkan Hasan da Husain masing-masing dengan seekor domba.”

Berdasarkan hadis di atas, sifat-sifat hewan yang disembelih sebagai Aqiqah harus sama dengan sifat-sifat hewan yang disembelih sebagai kurban.

 

Syarat Aqiqah : Jumlah hewan sembelihan

Untuk anak laki-laki disembelihkan dua ekor domba sebagai aqiqahnya dan untuk anak perempuan satu ekor saja. Hadis-hadis yang menjelaskan bahwa anak laki-laki diaqiqahkan dengan dua ekor domba adalah hadis-hadis yang memiliki keutamaan.

 

 

Syarat Aqiqah : Waktu Penyembelihan Hewan Aqiqah

Menurut sunnah Nabi, penyembelihan hewan Aqiqah dilaksanakan pada hari ketujuh dari kelahirannya dengan menghitung hari kelahirannya. Jadi, hewan Aqiqah disembelih pada hari keenam, jika hari kelahiran tidak dihitung. Apabila sang anak dilahirkan pada malam hari maka dihitung dari hari setelah malam kelahiran itu.

Penyembelihan hewan Aqiqah dilaksanakan pada hari ketujuh, sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi dari Abdullah ibn Buraidah, dari ayahnya, dari Nabi Saw, beliau bersabda:

 “Hewan Aqiqah itu disembelih pada hari ketujuh, hari keempat belas, dan hari kedua puluh satu.”

Menurut penganut Mazhab Hanbali, Aqiqah disembelih pada hari ketujuh dan seterusnya, kelipatan tujuh. Mereka memiliki beberapa riwayat yang dapat dijadikan dalil.

 

Sedangkan menurut penganut Mazhab Syafi’I disebutkan bahwa penyebutan tujuh itu untuk ikhtiyar bukan keharusan. Rafi’I menambahkan bahwa waktu penyembelihan hewan Aqiqah dimulai dari kelahiran bayi.

 

Imam Syafi’i berkata, “Makna hadis itu adalah penyembelihan Aqiqah diusahakan tidak ditangguhkan hingga melewati hari ketujuh. Namun jika memang belum sempat beraqiqah sampai sang bayi telah mencapai usia baligh, maka gugurlah tanggung jawab orang yang seharusnya mengaqiqahkannya. Tetapi, jika sang anak ingin beraqiqah untuk dirinya sendiri maka ia boleh melakukannya.

 

Ada ulama yang mengatakan, “Tanggung jawab untuk mengaqiqahkan tidak hilang walaupun tidak dilaksanakan pada hari ketujuh, namun disunnahkan agar tidak terlambat sampai usia balig.”

 

Imam an-Nawawi berkata, “Aku Abdillah al-Busyihi, salah seorang imam dalam mazhab kami berkata, “Jika tidak sempat menyembelih pada hari ketujuh maka di hari keempat belas, (jika belum juga dilaksanakan) maka di hari kedua puluh satunya, demikian terus pada kelipatan tujuh.”

 

Ketika akan menyembelih hewan Aqiqah, orang yang menyembelih disunnahkan membaca, Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Baihaqi dengan sanad hasan, dari Aisyah r.a. bahwa Nabi Saw menyembelih hewan Aqiqah untuk Hasan dan Husain, dan beliau bersabda.

“Ucapkanlah, Dengan Nama Allah. Ya Allah, untuk-Mu dan kepada-Mu aqiqah si Fulan.”

Namun, jika bacaannya dipendekkan dengan hanya mengucap bismillah maka itu lebih utama karena kesahihan hadis di atas masih diperdebatkan.

 

Disunnahkan juga memisah-misahkan anggota badan hewan Aqiqah, dan dilarang meremukkan tulang-tulangnya. Ada dua hikmah dari hal tersebut, yaitu:

 

Pertama, sebagai penghormatan terhadap orang-orang miskin dan para tetangga yang diberikan hidangan atau hadiah berupa daging Aqiqah, yaitu dengan memberikan potongan besar yang sempurna yang tulangnya tidak dipecah dan dagingnya tidak dikurangi. Tidak diragukan bahwa cara penyajian dan pemberian seperti ini merupakan penghormatan bagi orang-orang yang menerima.

 

Kedua, oleh karena kedudukan akikah sebagai tebusan untuk menebus sang bayi maka dianjurkan tulangnya tidak usah dipotong-potong, untuk mengharap keberkahan (dari Allah SWT juga dengan harapan agar anggota-anggota tubuh si bayi menjadi sehat dan kuat. Wallahu a’alam.

Syarat Aqiqah: Apa yang Dilakukan Setelah Penyembelihan?

Setelah penyembelihan hewan selesai, hendaknya kaum Muslimin disunnahkan memakan hewan Aqiqah, boleh juga menghadiahkannya atau menyedekahkannya kepada orang lain, karena Aqiqah adalah menyembelih hewan yang hukumnya sunnah maka hukumnya sama dengan hewan kurban.

 

Rafi’I berkata, “Sunnah memberikan bagian kaki dari hewan Aqiqah kepada bidan atau dokter (yang membantu proses kelahiran) sebagaimana yang disebutkan dalam sunnah al-Baihaqi, dari Ali r.a. bahwa Rasulullah Saw memerintahkan Fatimah ra.

“Timbanglah rambut al-Husain, kemudian bersedekah dengan perak (seberat rambut yang ditimbang) dan berikanlah bagian kaki hewan Aqiqah kepada wanita yang membantu proses kelahiran.”

(Diriwayatkan secara mauquf sampai pada Ali r.a.)

Disunnahkan juga memasak daging hewan Aqiqah sehingga masakannya menjadi manis, dengan harapan agar sang bayi kelak memiliki akhlak yang baik dan terpuji.

 

AQIQAH BANDUNG CIMAHI

 

Harga Hidup / Mentahan

Paket Aqiqah Murah

Paket Aqiqah

Info dan Pemesanan Hubungi

Pusat Paket Aqiqah

HOTLINE/ WhatsApp/Line/Telegram : 081809465516
Simpati/Telkomsel/As : 081322200591
Indosat/Mentari/IM3 : 085794255272

 

 

Kantor

BANDUNG: Jl.Cinambo 134 Cisaranten Bandung

CIMAHI: KH Usman Domiri 8 RT 1 RW 17 Padasuka CIMAHI

MOHON JANJIAN DULU KALO MAU DATANG KAWATIR LAGI GA ADA ORANG SEDANG PENGIRIMAN AQIQAH

 

copyright @Syarat Aqiqah

CEK JUGA >>>

 

 

Syarat Aqiqah

Syarat Aqiqah

by Pusat Aqiqah Murah Cimahi

 

syarat aqiqah

Layanan Aqiqah Murah Bandung Cimahi

Syarat Aqiqah menurut riwayat yang Sahih

 

Sifat sembelihan yang memenuhi syarat aqiqah

Imam Nawawi berkata dalam kitabnya, al-Majmu’ tentang syarat aqiqah, “Hewan yang layak (sah) disembelih sebagai aqiqah  adalah domba yang dewasa dan kambing yang dewasa yang sudah memiliki gigi seri (gigi depan)

Domba dan kambing itu harus bebas dari cacat. Ini dikarenakan aqiqah adalah mengalirkan darah sesuai dengan ketentuan Islam maka sifat-sifat hewan yang disembelih untuk aqiqah sama dengan sifat-sifat hewan yang disembelih untuk kurban, sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad sahih sahih bahwa Ibnu Abbas r.a. berkata “Rasulullah mengaqiqahkan Hasan dan Husain masing-masing dengan seekor domba.

 

Berdasarkan hadis di atas, sifat-sifat hewan yang disembelih sebagai syarat aqiqah harus sama dengan sifat-sifat hewan yang disembelih sebagai kurban.

 

Untuk anak laki-laki disembelihkan dua ekor kambing sebagai aqiqahnya dan untuk anak perempuan satu ekor saja. Hadis-hadis yang menjelaskan bahwa anak laki-laki diaqiqahkan dengan dua ekor kambing adalah hadis-hadis yang memiliki kelebihan (jika dibandingkan dengan hadis-hadis yang menjelaskan bahwa anak laki-laki diaqiqahkan dengan satu kambing).

 

Oleh karena itu, hadis-hadis yang dijelaskan bahwa anak laki-laki diaqiqahkan dengan dua ekor kambing lebih layak diterima. Hal ini diperkuat lagi oleh perkataan Ibnu Abbas ra. “bahwa Rasulullah ﷺ mengaqiqahkan (Hasan dan Husain) masing-masing dua ekor domba.”

 

Waktu Penyembelihan Hewan Aqiqah

Menurut sunnah Nabi ﷺ, penyembelihan hewan aqiqah  dilaksanakan pada hari ketujuh dari kelahirannya dengan menghitung hari kelahirannya. Jadi, hewan aqiqah  disembelih pada hari keenam, jika hari kelahiran tidak dihitung. Apabila sang anak dilahirkan pada malam hari maka dihitung dari hari setelah malam kelahiran itu.

 

Penyembelihan hewan aqiqah  dilaksanakan pada hari ketujuh, sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi dari Abdullah ibn Buraidah, dari ayahnya, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, “Hewan aqiqah  itu disembelih pada hari ketujuh, hari keempat belas, dan hari kedua puluh satu.

 

Menurut penganut Mazhab Hanbali, aqiqah  disembelih pada hari ketujuh dan seterusnya, kelipatan tujuh. Mereka memiliki beberapa riwayat yang dapat dijadikan dalil.

 

Sedangkan menurut penganut Mazhab Syafi’I disebutkan bahwa penyebutan tujuh itu untuk pilihan bukan keharusan. Rafi’I menambahkan bahwa waktu penyembelihan hewan aqiqah  dimulai dari kelahiran bayi.

 

Imam Syafi’i berkata, “Makna hadis itu adalah penyembelihan aqiqah  diusahakan tidak ditangguhkan hingga melewati hari ketujuh. Namun jika memang belum sempat beraqiqah sampai sang bayi telah mencapai usia baligh, maka gugurlah tanggung jawab orang yang seharusnya mengaqiqahkannya. Tetapi, jika sang anak ingin beraqiqah untuk dirinya sendiri maka ia boleh melakukannya”.

 

Pada saat akan menyembelih hewan aqiqah , orang yang menyembelih disunahkan membaca, sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Baihaqi dengan sanad hasan, dari Aisyah r.a. bahwa Nabi ﷺ menyembelih hewan aqiqah  untuk Hasan dan Husain, dan beliau bersabda. “Ucapkanlah, Dengan Nama Allah. Ya Allah, untuk-Mu dan kepada-Mu aqiqah si Fulan.”

 

Namun, jika bacaannya dipendekkan dengan hanya mengucap bismillah maka itu lebih utama karena kesahihan hadis di atas masih diperdebatkan.

 

Disunahkan juga memisah-misahkan anggota badan hewan aqiqah , dan dilarang meremukkan tulang-tulangnya. Ada dua hikmah dari hal tersebut, yaitu:

 

  • Sebagai penghormatan terhadap orang-orang miskin dan para tetangga yang diberikan hidangan atau hadiah berupa daging aqiqah , yaitu dengan memberikan potongan besar yang sempurna yang tulangnya tidak dipecah dan dagingnya tidak dikurangi. Tidak diragukan bahwa cara penyajian dan pemberian seperti ini merupakan penghormatan bagi orang-orang yang menerima.

 

  • Oleh karena kedudukan aqiqah sebagai tebusan untuk menebus sang bayi maka dianjurkan tulangnya tidak usah dipotong-potong, untuk mengharap keberkahan (dari Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى juga dengan harapan agar anggota-anggota tubuh si bayi menjadi sehat dan kuat.

 

 

Disunnahkan memakan hewan aqiqah , boleh juga menghadiahkannya atau menyedekahkannya kepada orang lain, karena aqiqah  adalah menyembelih hewan yang hukumnya sunnah maka hukumnya sama dengan hewan kurban.

 

Rafi’I berkata, “Sunnah memberikan bagian kaki dari hewan aqiqah  kepada bidan atau dokter (yang membantu proses kelahiran) “ sebagaimana yang disebutkan dalam sunnah al-Baihaqi, dari Ali r.a. bahwa Rasulullah ﷺ memerintahkan Fatimah ra. “Timbanglah rambut al-Husain, kemudian bersedekah dengan perak (seberat rambut yang ditimbang) dan berikanlah bagian kaki hewan aqiqah  kepada wanita yang membantu proses kelahiran.” (Diriwayatkan secara mauquf sampai pada Ali r.a.)

 

Syarat Aqiqah yang Benar

Imam Ahmad dan Tirmidzi meriwayatkan dari Ummu Karaz Al Ka’biyah bahwa ia bertanya kepada Rasulullah ﷺ  tentang aqiqah. Dia bersabda, “Bagi anak laki-laki disembelihkan dua ekor kambing dan bagi anak perempuan disembelihkan satu ekor, dan tidak akan membahayakan kamu sekalian, apakah (sembelihan itu) jantan atau betina.

 

Bisa disimpulkan bahwa jika seseorang berkemampuan untuk menyembelih dua ekor kambing bagi aqأqah anak laki-lakinya, maka sebaiknya ia melakukannya, namun jika tidak mampu maka seekor kambing untuk aqأqah anak laki-lakinya juga diperbolehkan dan mendapat pahala.

 

 

Bagi seorang ayah yang mampu dan memenuhi syarat aqiqah nya hendaknya menghidupkan sunnah aqiqah ini hingga ia mendapat pahala. Dengan syariat ini, ia dapat berpartisipasi dalam menyebarkan rasa cinta di masyarakat dengan mengundang para tetangga dalam walimah aqiqah tersebut.

 

cek juga >>> Harga paket Aqiqah Cimahi

 

copyright @ Syarat Aqiqah

Info dan Pemesanan Hubungi

Pusat Paket Aqiqah Murah

HOTLINE/ WhatsApp/Line/Telegram: 081809465516
Simpati/Hallo/As : 081322200591
Indosat/Mentari/IM3 : 085794255272